E-book, Era Digitalisasi Buku

E-book

numpukSaya kepikiran nulis topik e-book ketika saya sadar. Saya lebih sering membaca di laptop saya daripada buku yang tebel” dan menumpuk. Alesannya e-book lebih enak, simple, dan saya tidak merasa sakit mata karena layar laptop saya x-bright (vaio :P). Contohnya aja, saya belajar avr dari pdf-nya kang agfa (thx ya kang :D), novel dan brown, novel harry potter 7 waktu baru terbit yang bahasa inggris langsung keluar bajakan pdf-nya😛, dll pokonya banyak parah.. =P~ Ya udah, intro-nya cukup ah lanjut ke inti topik digitalisasi buku.😀

Digitalisasi memang menjadikan proses dokumentasi lebih ringkas, padat, dan efisien. Berkat digitalisasi, pencinta lagu bisa mengoleksi ratusan bahkan jutaan lagu dalam format digital mp3 ke dalam satu kepingan CD yang beratnya tidak lebih dari 2.5 gram.😀 Padahal, jika dalam format pita atau kaset, koleksi lagu sebanyak itu butuh ratusan kaset yang menyita banyak tempat.blue-ray-disc

Begitu pula dalam dunia hiburan audio visual, seperti film misalnya. Dalam format konvensional, satu film bisa terdiri dari 4 rol sampai 6 rol dengan berat total bisa mencapai 20 kg. Edan!😛 Berkat digitalisasi, film sebanyak itu bisa dipadatkan ke dalam satu keping dvd ukuran 4 GB yang ukuran beratnya sama dengan keping cd. Film pun bisa diproduksi secara massal dan lebih murah.

Tampaknya, gelombang digitalisasi tak bisa dibendung. Ia merambah ke mana-mana, ke semua aspek dan bidang kehidupan. Tak terkecuali dunia penerbitan buku. Buku yang selama berabad-abad diterbitkan dalam bentuk cetak dengan unsur utama kertas dan tinta, lalu dinikmati secara konvensional, kini harus memasuki sejarah baru buku digital atau electronic book (e-book).

Pada awal kehadirannya, e-book memang sangat tergantung pada ketersediaan komputer dan jaringan internet. E-book generasi pertama diterbitkan dalam bentuk disket, kepin CD, atau didownload dari sejumlah situs di internet, untuk kemudian sewaktu-waktu dibaca.

Namun, tingginya ketergantungan terhadap komputer itulah, akhirnya orang jadi malas untuk membaca e-book karena membaca lewat komputer ternyata jauh lebih ribet daripada membaca buku cetak konvensional. Belum lagi unsur portabilitas yang memang sulit dipenuji oleh komputer. Di sinilah kehadiran e-book terkendala oleh problem portabilitas sehingga e-book kurang mendapat respon dari masyarakat pencinta buku.

sony-laytest-ebook-readerNamun, dengan temuan perangkat PDA (Personal Data Assistance) kemudian dilanjutkan dengan produksi berbagai perangkat pembaca elektronik (e-book reader), problem portabilitas e-book bisa terjawab. Komputer hanya dibutuhkan untuk mendownload naskah untuk kemudian disimpan di PDA atau e-book reader. Setelah itu, naskah bisa dibaca di mana saja. Menarik bukan?😀

Secara fisik, e-book membutuhkan bahan dan ruang yang lebih sedikit daripada buku cetak konvensional. Bayangkan saja, dalam format teks, sekitar 500 judul buku bisa disimpan dalam satu keping cd atau dalam satu book reader yang ringan dan portable.

Padahal, dalam format buku cetak konvensional, 500 judul buku setara dengan koleksi dalam beberapa rak. Dengan kata lain, e-book bisa berfungsi sebagai perpustakaan online yang siap menyediakan buku dimana saja dan kapan saja. Parah pecinta buku bisa mengoleksi buku sebanyak mungkin tanpa harus repot memikirkan tempa yang luas karena yang dibutuhkan hanyakalh beberapa keping cd, dvd, pda, atau book reader yang cukup disimpan dalam laci meja belajar. Inilah salah satu kelebihan e-book.😀

Terkait dengan kebutuhan ruangnya yang kecil, e-book dapat ditawarkan dengan tak terbatas tanpa tanggal “out of print”😛 Hal ini memungkinkan para pengarang terus mendapatkan royalti secara tak terbatas dan memungkinkan para pembaca menemukan buku-buku lama.

Saat membaca buku cetak, tanpa sadar kita memegang buku dalam kondisi tangan kotor atau berminyak. Akibatnya, buku jadi kotor dan berminyak. Atau bisa juga karena buku terlalu sering dibaca, buku pun jadi rusak, lecek, dan terlipat-lipat😛

Pada e-book, hal semacam itu tidak akan terjadi. E-book relatif lebih naman untuk dipegang karena tidak perlu melipat seperti kertas. Jika kita capek membaca, e-book bisa ditutup tanpa harus menghentikan proses pembacaan karena e-book bisa dibaca menggunakan handsfree. Dijamin, halaman demi halaman pada e-book tidak akan rusak atau lecek, meski puluhan kali dibaca, atau ternoda karena tangan berminyak.😀

Dari sisi produksi, biaya yang dibutuhkan untuk mereproduksi satu e-book lebih murah daripada buku konvensional. Penyalinan bisa dibuat dengan instan dan seketika dalam jumlah besar sesuai keinginan. Hal ini membuat kemudahan dalam melakukan back-up. Dari sisi kepentingan penerbit, kemudahan membagikan e-text mengandung arti bahwa e-book bisa digunakan untuk merangsang penjualan lebih tinggi dari salinan buku yang dicetak.sonys-nextgen-e-book-reader

Berbda dengan buku cetak konvensional, e-book memungkinkan pembacanya bukan saja bisa dengan mudah melakukan pencarian teks atau frase, tetapi proses pencarian berlangsung secara otomatis. Bahkan, mlalui fasilitas hyperlinks, pembaca e-book bisa mengecek berbagai referensi. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, e-book bisa menjadi pilihan format sempurna untuk berbagai pekerjaan yang mengandalkan kemampuan pencarian seperti kamus, acuan kerja, dan berbagai jenis text book.

Penggunaan e-book reader pada pembacaan e-book di komputer, bukan sekadar pembaca text file. Sebab, software e-book mempunyai kelebihan lain yang kerap dilakukan pembaca manual pada umumnya, seperti bookmarking, memberikan anotasi, bahkan highlight dengan stabilo😛 Selain itu, penggabungan multimedia seperti audio books dan animasi juga bisa diintegrasikan ke e-book.😀

Dari sisi lingkungan, e-book dianggap lebih rama lingkungan. Meski membutuhkan energi listrik untuk membacanya, produksi e-book tidak membutuhkan kertas, tinta, dan bahan lain yang biasa digunakan dalam produksi buku cetak. Penggunaan kertas yang terus meningkat dianggap punya andil dalam mempercepat rusaknya lingkungan karena bahan baku kertas adalah pohon.

14 thoughts on “E-book, Era Digitalisasi Buku

  1. iyah, banyak buku bagus bertebaran di internet yang gak pernah diterbitkan ato dijual di indonesia.
    tapi so far, gw masih suka buku ‘konvensional’ yang ada fisiknya. masih belum lancar gw baca e-book di hape ato leptop. he3. betewe pa kabar gir? nge blog jg? gesti nih, temen kls satu di sma. haha, teman jadul.

  2. mampirrr girr (sekalian saya link ya blog-nya..hehe)

    tapi, teuteup aneh ah baca E-Book.
    Sensasinya beda dengan baca buku biasa.
    Mungkin lebih asyik kalo baca prasasti ?^^

  3. emmmm. tau buku yang bahas tenteng digitalisasi g? q denger da yang karangannya hamalik. tp aku susah carinya… qlg bth bwt ref. skripsiku… thans b4 ya bro…,

  4. Mas Giri salam kenal saya Fajar WS 2010 yang waktu itu ketemu Mas Giri dan Mas Daus yg berkunjung sebentar ke WS *makasih teh dari india-nya*, haha. Nice post mas, oh iya mas oot, habis baca post Mas Giri yang ini saya jadi teringat akan penasaran saya tentang siapa Kang AGFA sebenarnya, haha. Secara setiap pake altium, kami kami disini selalu menggunakan “his legendary library”. Sama satu lagi mas, boleh dong bagi pdf dari kang Agfa tentang AVR yang Mas Giri bilang. Thanks mas, ditunggu sharing sessionnya ke kami kami yang masih cupu ini Mas. Kalo bisa datang ya mas ke acara-acara WS, paling dekat halal bihalal ntar september *seenak jidat cem jepang-indo kaya tamansari-cisitu* haha

    • Wow halo Fajar. Haha nanti kapan2 saya ajak kang Agfa sama mas eeng kalau ada kesempatan. Biasanya kalo nyebut kang Agfa, mas eeng juga gak lupa disebut hehe, mas eeng juga ada di Jepang, kalau kang Agfa ada di LEN sama ferdaus jadi mungkin bisa undang2 mereka ke acara2 WS mumpung pada di bandung. Sayangnya saya tahun ini udah gak pulang lagi sepertinya hehe, sekarang grup WS yang aktif dimana? Facebook? Oh iya PDFnya tak cari dulu ya, di WS gak ada sama sekali? Harus ubek2 data kuliah lagi nih hehe, insyaa Allah kalau ada kesempatan sharing2 ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s