Orang Jepang yang Senang Mengantri

Jepang, adalah negeri impian kebanyakan orang Indonesia, termasuk saya. Negeri 4 musim yang terkenal dengan kerja kerasnya. Negeri sakura yang sarat dengan keunikan budayanya. Negeri kepulauan yang banyak dan rumit sekali aturannya. Negeri yang bisa kita pelajari dan tiru, demi kemajuan bangsa kita yang besar. Salah satunya dalam hal: antrian.

Orang Jepang sangat suka mengantri, dalam hal apapun. Saat menunggu kereta datang. Saat mengantri beli iPhone di hari perdana peluncurannya. Bahkan saat mengantri rapi di depan toilet kencing berdirinya laki-laki. Saya ceritakan satu-satu.

Waktu itu, saya sedang akan naik kereta. Papan petunjuk jadwal keberangkatan menyala dan scrolling LEDnya bergeser. Kereta selanjutnya berangkat 8:03 pagi dari stasiun Kita Fuchu, stasiun terdekat tempat tinggal saya.

Di pinggiran peron, ada semacam selotip, untuk tanda pintu kereta akan membuka disitu. Sekitar 7:58, kira-kira 5 menit sebelum kereta datang, orang-orang sudah mulai berdatangan. Mereka membentuk 2 baris rapi ke belakang, persis di depan selotip pinggir peron itu. Saya sendiri ikut mengantri, ikut barisan mereka di belakang.

Dari sejak tadi saya perhatikan, ada satu-dua orang yang tidak kelihatan seperti antri kereta. Sibuk dengan iPhone dan bukunya. Tidak memperhatikan orang di depannya, sehingga jarak dengan depannya agak jauh. Tapi, inilah hebatnya Jepang. Orang yang baru datang, dengan sopan mengantri di belakang orang sibuk tadi. Barangkali kalau di Indonesia orang sibuk itu sudah diserobot orang.

Pukul 8:02, kereta datang dengan membawa hembusan angin kencang. Tak bisa dibayangkan, momentumnya akan seperti apa, kalau ada orang Jepang yang menjatuhkan diri. Tipikal orang bunuh diri: menabrakkan diri ke kereta. Untungnya hari ini tidak ada.

Kereta dengan mulus direm pelan-pelan. Masinis kereta Jepang memang jago-jago, pintu kereta pas sekali berhenti di depan selotip pinggir peron, depan orang-orang mengantri rapi. Tepat sesaat sebelum pintu membuka, dua barisan ini saling minggir. Barisan kiri minggir ke kiri. Barisan kanan minggir ke kanan. Seolah-olah dua barisan ini seperti pagar ayu dan bagus yang ada di mantenan. Memberi jalan dan mengucap selamat datang ke tamu-tamu undangan yang hadir. Tapi sayangnya ini bukan di mantenan, ucapan selamat datangnya tidak ada.

Pintu kereta membuka. Tapi orang-orang yang mengantri malah diam berdiri mematung. Ternyata, mereka semua memberi kesempatan penumpang yang turun sampai habis. Setelah penumpang dipastikan turun semua, barulah kami yang sejak 5 menit lalu mengantri, mulai menaiki kereta satu persatu. Begitu pukul 8:03 tepat, pintu kereta menutup dan wuuusss, masinis tancap gas untuk menuju stasiun berikutnya. ***

iPhone 5, sebuah ponsel kebanggaan Apple. Belum lama ini rilis di Jepang. Walaupun kualitas map membusuk, tapi semua orang Jepang tergila-gila dengannya. Jangan harap bisa mendapatkannya di hari pertama peluncuran. Harus berusaha dan mengantri dengan segenap tenaga. Kerap kali terlihat di televisi, orang-orang mulai mengantri sejak satu, bahkan dua hari sebelum. Sampai bermalam di tempat antrian. Ada yang bawa tenda dan sleeping bag. Kalau anda bukan orang Jepang, jangan harap bisa dapat di hari pertama.

Saya sendiri memutuskan untuk beli iPhone 5. Toh tidak ada ruginya. Bayar bulanannya tetap sama! Saya pergi ke Yodobashi, toko elektronik di Jepang dan…booked. Saya baru dapat iPhone 5-nya dua minggu kemudian. Lagi-lagi mengantri. Hari H pengambilan pun masih harus mengantri 2 jam. ***

Ketika itu saya di stasiun kereta, sedang kebelet kencing. Saya berlari ke toilet stasiun. Sayangnya saya tidak bisa langsung setor, melihat antrian di toilet pria yang begitu panjang. Antrian sampai ke luar toilet, satu baris rapi. Ya sudah saya bersabar saja, saya paksakan untuk bertahan dan mulai mengantri dari luar.

Waktu demi waktu terus berlalu. Satu persatu orang keluar dari toilet. Merekalah yang sudah selesai setor. Sampailah saya di depan tempat cuci tangan, masih mengantri dan menahan. Lalu saya terheran-heran, kenapa orang depan saya tidak maju-maju. Tapi malah stop sekitar 5 meter di belakang tempat-tempat kencing berdiri (saya tidak tahu ini istilahnya apa, jadi sebutlah “tempat kencing berdiri”). Saya mulai berpikir.

10 detik berlalu dan satu orang lagi baru selesai setor. Ia beranjak dari tempat kencing berdiri dan keluar toilet. Orang depan saya segera ke tempat kencing berdiri yang sudah kosong itu dan mulai setor.

Oh, akhirnya saya bisa simpulkan sesuatu. Di Jepang, para pria tidak mengantri satu persatu di belakang setiap tempat kencing berdiri. Tapi membentuk antrian agak jauh di belakangnya. Begitu ada tempat kosong, miliknya orang yang mengantri paling depan. Ini fair.

Beda dengan membentuk antrian di belakang setiap tempat kencing berdiri. Misalnya, ada orang yang sudah mengantri lama, tapi orang yang sedang kencing di depannya lama sekali, sehingga ia harus menunggu lama. Tiba-tiba, datang orang yang mengantri di tempat kencing berdiri lainnya. Secara kebetulan, orang yang kencing di tempat itu sudah beres. Rezeki orang yang baru datang itu bisa kencing terlebih dahulu, padahal ada orang yang mengantri sejak lama. Nah ini tentunya tidak fair. Bisa saja mengakibatkan perselisihan. Tentu tidak lucu berantem hanya karena soal kencing. ***

Semoga kita bisa ambil sesuatu dari pelajaran antrian di Jepang ini. Semoga Indonesia juga jadi senang mengantri suatu saat nanti, terutama dalam soal jalanan macet.

4 thoughts on “Orang Jepang yang Senang Mengantri

  1. yang suka ngantri bukan hanya orang jepang saja, masih banyak warga negara lain yang tertib antri. budaya ngantri bukan monopoli jepang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s