Kisah Berpuasa di Negeri Sakura

KBRI

Sebagai seorang muslim, hidup di negeri minoritas memang penuh tantangan. Salah satunya tantangan berpuasa di bulan suci Ramadhan. Bulan penuh berkah ini jatuh tepat di musim panas. Saat matahari sedang lama-lamanya bertengger di angkasa. Saat panas menyengat dan kelembapan sedang ganas-ganasnya. Pukul 3 pagi sudah masuki waktu subuh dan fajar menyingsing pukul 4:30 pagi. Matahari terbenam di sebelah barat pukul 7 malam.

Suhu Tokyo saat ini sekitar 35 derajat celcius. Kelembapan mencapai 98% sehabis hujan. Panas Ibukota Jakarta tak ada apa-apanya. Baru berjalan di luar 5 menit saja, baju sudah basah keringat bukan main. Ditambah tenggorokan kering tak bisa minum sampai waktu berbuka. Namun tak bisa dipungkiri kalau ini semua masih bisa ditahan. Godaan yang paling susah ditahan adalah melirik wanita-wanita Jepang. Paras wajah nan cantik, kulit putih mulus dan bisa dibayangkan sendiri kan pakaian mereka seperti apa kalau musim panas? Baru buka pintu apartemen di pagi hari saja, mereka sudah lewat pakai sepeda.

Saya terbiasa bangun sahur pukul 2:30 pagi. Saya usahakan bangun walau hanya untuk seteguk air putih. Karena ada berkah di setiap sahur, sesuai hadis Nabi saw. Terkadang saya masukkan telur ke dalam oven sampai matang sambil terkantuk-kantuk, untuk dimakan sama nasi. Beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, saya beli daging ayam halal di toko Indonesia, tapi belum sempat saya masak karena pisau dapur saya hilang.

Pada dasarnya, memang agak sulit untuk cari perdagingan yang halal sesuai syariah (QS 5:3). Apalagi Jepang bukan juga termasuk negeri ahli kitab (QS 5:5). Tapi dewasa ini sudah semakin banyak toko-toko yang menjual daging bersegel halal. Bahkan supermarket biasa dekat apartemen saya pun menjual daging bersegel halal, yang entah mengapa berasal dari Brazil dan Cili. Lagi-lagi ini sebuah nikmat, dan salah satu keajaiban yang banyak terjadi di negeri minoritas.

Seperti di tanah air, bulan Ramadhan identik dengan “bubar” atau “buka bareng”. Malah terkadang sampai ada “busabar” atau “buka saur bareng”. Di sini pun begitu. Mulai dari KBRI Tokyo, KMII, PPI, Fuchu Koganei, perkumpulan TKI Jepang, semua perkumpulan yang ada orang Indonesia-nya berlomba-lomba berbuka bersama setiap minggu. Saya sampai bingung harus ikut yang mana. Semarak sekali.

Tak hanya orang Indonesia, mesjid-mesjid di Tokyo pun setiap hari ada buka bersama. Berbuka di mesjid sini sangat terasa persaudaraan muslimnya. Semua muslim dari berbagai etnis, warna kulit, negara berkumpul menjadi satu. Termasuk orang-orang Jepang yang sudah muslim. Bercengkerama sambil berbuka puasa. Sungguh sangat indah ukhuwah islamiyah. Keberagaman dalam universal brotherhood.

Respon teman Jepang soal puasa tentu saja berat. Apalagi bos saya di kantor yang khawatir berlebih, takut saya pingsan tanpa air minum di tengah teriknya matahari musim panas. Saya tak boleh keluar gedung kantor selama berpuasa. Sebagai agen muslim ya tunjukkan saja kalau kita malah lebih kuat saat berpuasa Ramadhan.

Komunitas muslim di Jepang, terutama di Tokyo ada banyak. Khusus komunitas Indonesia, biasanya ustad-ustad dari Indonesia dipanggil untuk mengisi kajian sewaktu buka bersama. An Nur sendiri, komunitas muslim yang saya ikuti, mengundang Ustad Fadlan Garamatan selama seminggu langsung dari papua. Beliau menceritakan kisah-kisah memuslimkan masyarakat pedalaman papua. Dari mandi pakai lemak babi, jadi mandi pakai sabun wangi.

Sayangnya puasa di Jepang ini tak terasa seperti puasa. Tak terasa Bulan Ramadhannya. Tak terasa nikmat tajilnya. Tak terasa kolaknya. Terasa seperti hari-hari biasa. Inilah negeri minoritas. Tak ada adzan magrib di televisi. Tak ada dagelan menemani waktu sahur. Tak ada sinetron religi Dedy Mizwar.

Mesjid Otsuka selalu menjadi favorit saya untuk taraweh berjamaah. Suara imam Pakistan yang merdu, sungguh menggetarkan hati. Doa qunut yang membasahi wajah dengan air mata. Satu juz setiap hari tak terasa dalam 23 rakaat, begitu indah. Saya bertemu dengan Syaikh dari Turki yang sudah berumur lebih dari 110 tahun. Adalagi mantan Yakuza Jepang muslim yang penuh dengan tato di sekujur tubuhnya. Ditambah bocah-bocah blasteran Jepang yang hampir hafiz Quran di usia muda belia. Indah sekali puasa Ramadhan di negeri minoritas.

Lain lagi dengan Mesjid Jami Turki tempat saya suka menyendiri. Selalu terharu melihat wanita-wanita Jepang yang bersyahadat di sini. Tak seperti wanita-wanita Jepang yang menggoda iman tadi, mereka berjilbab. Setiap buka bersama di sini pun, banyak orang-orang Jepang lain yang mencoba puasa, walaupun belum muslim. Mesjid ini memang sangat unik dan menarik. Ditambah makanan Turki prasmanan sebagai pembuka puasa. Siapa yang tak tergoda untuk berbuka puasa di sini?

Otsuka Mosque

11 thoughts on “Kisah Berpuasa di Negeri Sakura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s