Nine Things I Learned from My Dad

subiakto

Mirip Foke. Itulah yang orang-orang biasa ucapkan saat pertama kali bertemu ayah. Memang kalau dilihat-lihat, paras wajahnya mirip sekali dengan orang yang dikalahkan Jokowi itu. Terlepas dari mirip atau tidaknya, banyak hal yang saya pelajari darinya.

Entrepreneur-entrepreneur sukses biasanya menjawab rahasia kesuksesan mereka ada pada mentor. Mentor adalah syarat wajib menjadi orang sukses. Saya merasa ayah adalah mentor saya. Mentor kehidupan. Mentor keilmuan. Mentor pekerjaan. Mentor yang membentuk karakter, kepribadian, dan juga pola berpikir saya. Sembilan di antara ribuan bahkan ratus ribuan pelajaran darinya saya coba tuliskan di sini.

1. Perseverance

Perseverance atau tekun. Ayah seorang yang tekun sekali. Ia lahir di keluarga yang serba kekurangan. Atau mungkin memang sebagian besar rakyat Indonesia hidup dalam kekurangan pada masa itu. Tapi kekuranganlah yang membuat tak ada pilihan lain selain menjadi tekun, untuk memperbaiki kualitas hidup. Ketekunan yang membawanya masuk kuliah di Teknik Mesin ITB.

Tekun dalam pekerjaan. Ayah baru mengambil MBA setelah bekerja 10 tahun di IPTN (sekarang PT.DI). Kalau kucuran dana tak di-stop IMF, mungkin ayah masih dengan tekunnya bekerja di sana. Saya ingat beberapa tahun lalu ayah masih menjabat komisaris. Kalau ditotal, ayah sudah bekerja di IPTN selama hampir 30 tahun.

2. Disiplin

Eyang uti atau nenek saya selalu mamasukkan anak-anaknya ke sekolah Cina, termasuk ayah. Saya tak tahu kenapa istilah “Cina”dianggap SARA di Indonesia. Padahal teman-teman Malaysia dan Singapura saya selalu bangga dengan identitas Cina mereka. Anyway, alasan ayah dimasukkan ke sekolah Cina hanya satu: disiplin. Sekolah Cina terkenal dengan kedisiplinannya dan gurunya yang galak-galak. Murid-muridnya jadi disiplin.

Saya dan adik-adik di rumah pun dilatih untuk disiplin sedari kecil. Pukul 7 malam TV mati. Semua harus masuk kamar masing-masing. Semua harus belajar dan menyiapkan materi sekolah keesokan hari. Kalau ogah-ogahan siap terkena semprot.

3. Baca sebanyak mungkin

Ayah seorang kutu buku. Setiap ke toko buku, selalu saja ada buku yang terbeli. Ayah bisa membaca dengan cepat sekali. Skimming dengan tetap mengerti ide-ide yang dituliskan. Novel Da Vinci Code karya Dan Brown ayah tamatkan hanya dalam kurun waktu 2 hari. Padahal ayah seorang yang sibuk.

Buku adalah gudang ilmu. Dengan membaca kita menambah ilmu dan wawasan. Good readers are also good writers.

4. Planning

Selalu buat rencana apa yang akan dikerjakan minggu ini. Rencanakan di depan. Parameter-parameter harus terukur. Mungkin pelajaran ini bawaan dari sekolah MBA ayah. Setahu saya planning bagian dari manajemen. Don’t let your time go begitu saja. Diri ini tak hanya miliki sendiri, tapi teman, orang tua, adik-adik juga memilikinya. Dengan punya rencana di depan, orang-orang yang punya kepentingan dengan kita pun bisa menyesuaikan jadwalnya.

Jepang membangun negaranya semaju itu dengan rencana-rencana ke depan. Saya pernah bertanya kepada salah satu teman Jepang tentang pernikahan. Ia tak mau menikah. Alasannya ia membutuhkan biaya sangat besar untuk membesarkan dan meluluskan anak sampai sarjana. Betapa panjang sekali rencana yang dibuat orang Jepang. Tak heran negeri mereka bisa semaju ini.

5. Keep humble

Saya tak pernah mendengar sedikitpun ayah membangga-banggakan jabatan di kantornya. Menyebut-nyebut gajinya. Berkoar-koar tentang prestasinya. Humble. Ayah selalu berpegang teguh pada pepatah “padi yang semakin berisi semakin merunduk”. Semakin berilmu semakin rendah hati. Semakin sukses semakin senang untuk berbagi kesuksesan.

Sedari kecil saya sering berbincang dengan bawahan-bawahan ayah. Banyak dari mereka yang berkunjung ke rumah. Biasanya orang-orang kecil semacam office boy yang sedang kesulitan. Ayah dengan senang hati membantu mereka semampunya.

6. Wake up early

Ayah selalu bangun pagi. Pagi adalah produktif. Hari akan terasa panjang saat bangun pagi. Kita akan merasa lebih dari yang lain karena bangun lebih awal. Bangun pagi akan membuat pikiran jernih. Daripada menyelesaikan pekerjaan semalaman tanpa tidur, lebih baik tidur di awal agar bisa bangun pagi.

7. Musik

Ayah tak bisa main musik. Tapi ayah seorang penikmat musik, terutama Jazz. Saya dikenalkan Jazz olehnya sedari kecil. Jazz mengasah otak dan melatih otak kanan kita. Jazz penuh dengan kreativitas dan improvisasi. Radio KLCBS selalu dimainkan setiap pagi mengisi sarapan pagi keluarga.

8. Prioritaskan keluarga

Ayah selalu memprioritaskan keluarga. Bahkan jam makan siang kantorpun ayah pulang dulu ke rumah. Jam 6 sore biasanya sudah ada di rumah sepulang kantor.

9. Berbakti kepada kedua orangtua

Nomor sembilan inilah pelajaran terpenting yang saya dapat darinya. Berbakti berarti menuruti perintahnya. Tak pernah melawan. Tak pernah membangkang. Saya tak ingat pernah membantah ayah. Kalaupun pernah, barangkali saat saya masih balita yang ogah-ogahan kalau makan. Berbakti kepada kedua orang tua akan membuahkan kesuksesan. Ayah percaya itu. Orang tua selalu mendoakan yang baik-baik kepada anak-anaknya. Ippho Santosa dalam bukunya 7 Keajaiban Rezeki selalu menyebutkan: rahasia kesuksesan ada pada orang tua. Kepada orang tua kita akan menguak langit dan memanggil rezeki.

Di dalam Al Quran sendiri banyak sekali ayat yang membahas tentang orang tua, di antaranya:

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya”. (QS Al Ankabut 8)
“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”. (QS Lukman 15)

Jadi apa saja yang bisa dipelajari dari ayah?

  • Perseverance atau ketekunan
  • Disiplin
  • Baca sebanyak mungkin
  • Planning
  • Keep humble
  • Wake up early
  • Musik
  • Prioritaskan keluarga
  • Berbakti kepada kedua orangtua

Like father like son. Semoga jejak sang ayah bisa diikuti anaknya.

One thought on “Nine Things I Learned from My Dad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s