4 Prinsip “Ndeso” dalam Budaya Kerja Jepang

budaya jepang

Jepang terkenal dengan kerja kerasnya dan kerja lemburnya. Semua orang tau itu. Tapi tak banyak yang tahu kalau budaya kerja Jepang itu “Ndeso”. “Ndeso” berarti “kampungan” seperti yang kita tahu, tapi bukan itu yang saya maksud. Dalam budaya kerja Jepang, “Ndeso” berarti berpikir seperti penduduk desa. Seorang pekerja Jepang akan merasa kantornya seperti desa, penduduknya saling gotong royong membangun lingkungannya. Ini adalah sebuah pemikiran ala Jepang, budaya kerja unik yang hanya ada di negeri sakura ini. Pemikiran “Ndeso” ini dikenal dengan istilah “Village Relationship” atau muranogurupu (「ムラ」のグループ), yang jadi basis Jepang berpikir secara kelompok.

1. Society built on “place” relationship
「場」としてのグループに個人が所属する。

cupples house

Ada seorang anak baru di kantor, anggap saja namanya Budi. Sebelum bergabung, Budi sempat kerja di perusahaan Indonesia. Ia orang yang super dan hebat, pemikir ulung dan kreatif, kariernya menanjak cepat sekali. Ia merasa seperti star employee saking hebatnya, semua orang mengenalnya di tempatnya yang lama. Tapi ia memutuskan berhenti dan pindah ke perusahaan Jepang. Ia kaget bukan main, kehebatannya tak dihargai oleh rekan-rekan kerjanya. Ya, inilah budaya kerja Jepang. Tak ada istilah star employee atau bintang karyawan atau apapun namanya, karena mereka satu kesatuan dalam kelompok, bergerak bersama-sama. Tak ada keputusan individual, adanya keputusan kelompok. Tak ada  tanggung jawab individual, adanya tanggung jawab kelompok. Tak ada ide individual, adanya ide kelompok. Tak ada orang yang mengenal nama Budi, kenalnya nama kelompoknya, sehebat apapun ia.

2. Once workers enter company, the company becomes the “place” for their careers
一度入社した企業は自分の生活の安定した「場」である。

career

Sebagian besar orang Jepang punya prinsip “life time employment”. Satu perusahaan seumur hidup. Tempat bekerja akan menjadi rumahnya atau desa tempat tinggalnya yang tak terpisahkan. Beda dengan orang Indonesia yang menganggap kantor sebagai “tempat bekerja”, orang Jepang menganggap kantor sebagai “tempat tinggal”nya. Terkadang kantor pun menjadi tempat tidurnya saat ada kerjaan yang tak bisa ditinggal sampai larut malam.

Memecat seorang pekerja di Jepang termasuk taboo dan jarang sekali dilakukan meskipun performa si pekerja jelek sekali. Bahkan teman seangkatan saya sudah bolos kerja 6 bulan pun masih dipertahankan. Terkadang pekerja yang membolos itu memang sedang stres berat dan mungkin jadi alergi masuk kantor. Ya mau bagaimana lagi. Memecat pekerja hanya dilakukan saat kondisi keuangan perusahaan sudah tak memungkinkan lagi. Inipun bukan dengan jalan memecat, melainkan dengan memohon pekerja-pekerjanya untuk mengundurkan diri secara sukarela. Sungguh unik!

3. Workers give priority to stability and cooperation
雇用の安定性と協調性を重視する。

cooperation

Di sini semua orang saling bantu. Ini yang membuat orang-orang bekerja sampai larut malam. Bukan karena kerjaannya yang tak beres, melainkan karena bantu-bantu kerjaan rekan-rekannya sampai beres! Tanggung jawab suatu kerjaan dibagi rata di kelompok. Orang hebat dapat tanggung jawab lebih besar daripada orang biasa, dan orang lemah hanya dapat tanggung jawab sedikit. Tapi lagi-lagi, hasil akhir kerjaan tetaplah kelompok, bukanlah individu orang hebat tersebut.

4. Large differences in evaluation and treatment can affect cooperation and moral
あまりに大きな格差は職場の協調性や個々の社員の土気の低下をもたらしかねない。

japan worldcup

Kata kunci di budaya kerja Jepang adalah kelompok. Supaya kelompok ini stabil dan tak ada iri dengki atau konflik internal, semua pekerja dianggap dan dilihat sama rata. Orang hebat kehebatannya diredam. Orang lemah kelemahannya didongkrak. Hasilnya semua performa pekerja seperti grafik garis lurus, tak ada puncak dan tak ada lembah. Semua merasa satu, tak ada yang sok pamer keahlian dan tak ada yang minder karena kurang kemampuan, bagaikan suatu desa dikelilingi sawah yang penduduknya hidup rukun, aman, dan tentram.

7 thoughts on “4 Prinsip “Ndeso” dalam Budaya Kerja Jepang

  1. Prinsip orang Jepang memang sangat bagus, Giri
    Bangsa-bangsa Asia Timur mempunyai ciri khas masing-masing dan unik
    Mereka mampu menempatkan nilai-nilai budaya mereka dan mengemasnya dengan modernisasi
    Itulah kenapa bangsa Jepang, China (Taiwan), Korea mempunyai HDI diatas rata-rata bahkan sudah masuk ke Very High Level
    Kerja Keras, Disiplin, dan Pantang Menyerah sudah merupakan budaya Bangsa Asia Timur
    Sudah saatnya kita mengambil saripati nilai-nilai itu di Indonesia dan mengembangkannya dengan budaya lokal kita
    Salam

    • halo Rifdan, terimakasih atas komentarnya. Memang menurut saya budaya Timur yang kerja keras lebih pas untuk ditiru Indonesia daripada budaya Barat, dan secara kultur pun mirip. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari mereka😀

  2. Ada sisi positif dan Negatif nya pasti dari kinerja seperti orang Jepang itu, tp gw pikir klo di serasikan dengan kebiasaan di Indonesia yg abik2 pasti tambah mantap ni, contoh di Indonesia kerja masih bisa senda gurau (Tp jangan sering2), gw liat di JEpang kerja serius bgt sampe2 pagi kerja pulang larut malam, terus begitu setiap hari, ga ada waktu buat kongkow2 sama kawan2 gitu. walau ada jg kongkow2 c di Jepang tp ga seperti di Indonesia.
    #mantap tulisan nya mas bro, lanjutkan menulis, gw suka tulisan lo.
    #salam dari anak saitama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s