Shinkansen philosophy, cara Jepang mengejar mimpi

shinkansen

Siapa yang tak kenal Shinkansen, kereta cepat Jepang yang mendunia itu. Orang bule menyebutnya dengan istilah “bullet train” atau kereta peluru. Kereta ini melesat secepat butir peluru yang ditembakkan dari selongsong senapan seorang tentara. Ini kereta cepat pertama dan teraman di dunia dengan sistem pengamanan berlapis-lapis. Sejak pertama kali dijalankan tahun 1960an sampai sekarang, Shinkansen belum pernah kecelakaan satu kalipun! Ternyata ada pelajaran dan filosofi di balik kereta canggih ini.

Shinkansen pertama bisa melaju sampai kecepatan 180 km/jam, kereta tercepat di dunia pada zamannya. Ketika itu, para insinyur Jepang belum sempat memikirkan nama apa yang tepat untuk Shinkansen. Semua sibuk memikirkan teknologi dan keamanan si kereta. Apa kira-kira sesuatu yang bisa melaju secepat ini? Satu insinyur nyeletuk, “kereta ini secepat sayap burung”. Semua sepakat dan akhirnya Shinkansen pertama dinamakan “Tsubasa”, yang berarti sayap atau wings.

163874-050-CBA41D2E

Sayangnya para insinyur Jepang tak puas sampai di sini. Mereka terus bekerja keras dan akhirnya bisa menciptakan Shinkansen yang lebih cepat. Lalu lahirlah Shinkansen dengan kecepatan 240 km/jam. Lagi-lagi tak ada yang memikirkan nama kereta cepat ini. Mereka sibuk dengan pengetesan kereta, berapa penumpang yang bisa ditampung dengan nyaman. Apa yang lebih cepat dari sayap burung? Satu insinyur angkat bicara, “Tembakan peluru lebih cepat daripada sayap burung!”. Semua setuju dan Shinkansen ini dinamakan “Kodama”, berarti peluru. Mulai saat ini, Shinkansen atau kereta cepat dikenal dengan istilah “bullet train” di seluruh dunia.

0_Q4_Kodama_Hakata_19980700

Dasar insinyur Jepang, mereka tak mau berhenti. Improvisasi sana-sini terus dilakukan. Dalam manufaktur Jepang, konsep ini disebut continuous improvement, dipelopori oleh Toyota lewat Toyota Production System (TPS). Kemudian jadilah kereta yang lebih cepat lagi, 270 km/jam. Sama seperti sebelumnya, tak ada yang sempat memikirkan nama kereta ini. Apa yang lebih cepat dari tembakan peluru? Semua insinyur setuju kalau yang paling cepat adalah cahaya. Melalui debat sengit karena tak tahu pakai nama apa kalau mereka buat kereta yang lebih cepat lagi, semua sepakat pakai nama “Hikari”. Hikari berarti cahaya dalam bahasa Jepang.

JRW-700-hikari-railstar

Tak habis pikir. Entah bagaimana caranya para insinyur Jepang berhasil mengeluarkan kereta yang lebih cepat lagi dari Hikari. Jika tak membawa penumpang, Shinkansen ini mampu melaju sampai 540 km/jam. Dan mungkin memang sudah budayanya kalau mereka tak mau heboh dengan pencarian nama di awal. Semua bingung menamakan Shinkansen ini. Kebalikan dengan Indonesia, nama dulu baru isinya. Lalu, apalagi yang lebih cepat dari cahaya? Murid-murid SD pun tahu kalau cahaya punya kecepatan 3 x 10^8 m/s, zat tercepat di dunia. Tapi ternyata ada yang lebih cepat lagi. Semua insinyur Jepang setuju memberi Shinkansen ini nama “Nozomi”. Nozomi berarti harapan yang tersirat di pikiran kita.

Kecepatan berpikir manusia lebih cepat dari cahaya. Sudah sepantasnya kita bersyukur dan pakai pikiran kita untuk hal yang baik-baik. Berpikir tanpa lelah dan kerja keras, tentu harapan dan mimpi kita akan terwujud dengan cepat. Lebih cepat dari Shinkansen manapun yang pernah dibuat Jepang. Semoga pelajaran dari Tsubasa, Kodama, Hikari dan Nozomi ini bisa diambil untuk mengejar mimpi-mimpi kita semua.

Saya akan bahas teknologi Shinkansen di tulisan selanjutnya.

shinkansen

Disclosure:

Kisah ini saya dapat dari CEO Touchten (touchten.com), @antonsoeharyo, saat menghadiri acara Techinasia di Tokyo tahun lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s