Peranku untuk Indonesia

 

n250

Teringat masa kecilku yang penuh dengan gemerlap mimpi seorang teknokrat. Ayahku seorang insinyur pesawat terbang di IPTN. Hampir setiap minggu aku dibelikan mainan pesawat terbang. Rumah pun dipenuhi dengan miniatur pesawat jet, pesawat baling-baling sampai pesawat ulang-alik. Setiap pulang kantor, Ayah selalu bercerita tentang semangat anak-anak bangsa di pabriknya, gotong royong merancang dan membuat pesawat terbang N250. Kata Ayah, kalau kita bisa buat pesawat terbang sendiri, kita akan menguasai teknologi, Indonesia akan mandiri dan disegani dunia.

Hari bersejarah itu pun tiba, 10 Agustus 1995, penerbangan perdana N250 dengan kode Gatotkaca. Aku diajak Ayah ke bandara Husein Sastranegara untuk menyaksikan karyanya langsung. Ketika itu umurku 6 tahun, masih duduk di kelas 2 SD. Aku belum mengerti apa-apa, hanya ingat suasana sewaktu itu sangat tegang saat mesin pesawat mulai dinyalakan. Mesin menggerung kemudian bergerak pelan-pelan, berputar, melaju kencang dan akhirnya mengudara. Rasa haru dan gembira menyelimuti orang-orang di sekitarku, melihat Gatotkaca berhasil meninggalkan landasan pacu menuju langit Bandung.

Sayang kini kisah itu hanya tinggal kenangan. Gatotkaca tak mampu diproduksi masal akibat krisis moneter 1998. Bahkan berakhir tragis karena perusahaan Ayah dibiarkan jatuh dalam kebangkrutan. Meninggalkan kepedihan di hati ribuan insinyur, terutama trauma mendalam di mata Ayah. Rasa ingin melanjutkan mimpi Ayah mulai terbesit di kala itu. Aku belajar keras di sekolah sampai berhasil diterima kuliah di kampus Ayahku: ITB.

Dipecut semangat menjadi insinyur hebat seperti Ayah, aku belajar sangat keras di kampus. Walau jurusanku Teknik Telekomunikasi, aku menjelajah sebanyak mungkin ranah teknologi yang tersedia. Sambil terus mencari, kalau pesawat terbang tak bisa, teknologi apa yang bisa Indonesia kuasai. Mulai dari merancang robot, membuat perangkat elektronika, menulis perangkat lunak, merakit komputer, menala server Internet, sampai memasang pembangkit listrik tenaga surya di desa terpencilpun aku lakukan. Tak jarang aku menginap di kampus sampai subuh. Beruntung sekali di kampus aku mendapat teman-teman jurusan lain yang mau mengajariku.

Lulus dari Ganesha, aku memutuskan kerja sebagai insinyur di pabrik Jepang yang terletak di pinggiran kota Tokyo. Penghargaan mahasiswa terbaik yang diberikan Rektor ITB dulu memikat Toshiba untuk menerimaku. Aku ingin belajar sebanyak-banyaknya cara pabrik Jepang menguasai teknologi dan memproduksi barang-barang jempolan. Kenapa pabrik IPTN waktu itu tak berhasil? Pertanyaan ini terus menggeluti pikiranku selama hidup di Jepang.

Sudah tiga setengah tahun aku lewati dinamika kehidupan negeri sakura. Pengalaman begitu berharga berhasil didapat: menemui banyak etnis baru dari seluruh dunia, menguasai bahasa asing baru, menggali ilmu produksi Jepang, sampai menanamkan pola disiplin denyut nadi kehidupan Tokyo. Saat pulang nanti, semua itu jadi bekal tak ternilai untuk memperjuangkan kembali mimpi Indonesia yang mandiri teknologi.

Dengan menemui para menteri dan tokoh Indonesia yang mampir Tokyo, aku melihat kreativitas sebagai kekuatan khas negeri kita. Mengawinkan kreativitas dan teknologi akan membuka pintu kita menuju dunia. Jalan menguasai teknologi dimulai dari sini, sebelum meneruskan mimpi besar yang aku kerjakan selama di Tokyo: Smart City.

Bandung bagiku bukan hanya sekedar kota kelahiran, lebih jauh dari itu, melibatkan perasaan. Sekembalinya ke pangkuan ibu pertiwi setelah lulus sekolah S2 nanti, aku akan merintis sebuah perusahaan teknologi kelas dunia di Bandung. Anak-anak tangga teknologi menuju Smart City akan aku bangun bersama anak-anak bangsa. Banyak orang menyempitkan konsep Smart City, seolah-olah menyambungkan seluruh penduduk kota dengan koneksi Internet saja sudah cukup. Padahal konsep Smart City sangatlah luas, mulai dari transportasi handal, energi ramah lingkungan, sampai pelayanan kesehatan. Harus dimulai dari yang kecil untuk bisa menguasai teknologi sebesar itu. Mimpiku menjadi teknokrat sekelas Pak BJ Habibie, yang giat mencoba membangun industri strategis Indonesia, bahkan sampai sekarang di usianya yang tak lagi muda.

Anak tangga pertamaku dimulai dengan Internet of Things, menyambungkan produk-produk kreatif karya anak negeri dengan teknologi Internet. Setelah dibukanya keran pasar bebas ASEAN tahun 2015, menjual produk ke luar negeri akan semakin mudah. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, dengan menambah kebanggaan produk Indonesia di mata dunia. Belajar dari bangkrutnya IPTN saat krisis moneter, ketergantungan pada utang perlu dihindari. Pemasukan cashflow positif akan membuat bisnis sehat, sambil pelan-pelan terus mengembangkan teknologi. Bukan tak mungkin transformasi kota-kota besar di Indonesia menjadi Smart City bisa dilakukan dengan tangan-tangan anak bangsa sendiri. Indonesia pasti mampu, asalkan tangan lebih banyak bekerja, mata lebih banyak melihat ke atas, telinga lebih banyak mendengar saran, dan mulut kita lebih banyak berdoa. Semoga dari sini, kisah tragis Gatotkaca 19 tahun silam tak terulang, dan mimpi Indonesia yang mandiri teknologi dapat kita wujudkan.

Source: essay yang saya tulis untuk apply beasiswa S2

6 thoughts on “Peranku untuk Indonesia

  1. Keren Kak! Thanks for sharing and inspiring… Saya juga sedang menimba ilmu mengembangkan bisnis dengan bekerja di IT startup company di Jakarta. Semoga kita bisa bertemu suatu saat nanti ya..🙂

    • Halo yohan salam kenal,
      Selamat menimba ilmu, saya juga masih perlu banyak belajar nih, tulis yang banyak ya di blog nya biar bisa belajar banyak dari startup2 jakarta,semangat!😀

  2. Tulisannya bagus. Dari orang tua yang hebat,menurunkan anak yang berkualitas. Alangkah bahagianya orang tuanya mas Giri. Semoga cita-cita untuk menjadi teknokrat sekelas Bapak BJ Habibie segera terwujud. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s