Teruntuk Bapak dan Ibu Guruku

SD Banjarsari

2 Mei 2014, hari pendidikan nasional. Teringat pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa yang telah bersusah payah menempa diriku sedari kecil.
Teruntuk guru-guruku:

Guru SD Negeri Banjarsari Bandung
Guru SMP Negeri 5 Bandung
Guru SMA Negeri 3 Bandung
Dosen Teknik Telekomunikasi/Elektro ITB
serta guru-guru non-formal di sekitar yang selalu mengajariku berbagai macam ilmu di luar sekolah, mulai dari musik Klasik dan Jazz, olahraga badminton dan sepakbola, bahasa Jepang dan Inggris, ilmu Al Quran dan Al Hadits.

Ingin rasanya bersilaturahmi, mengunjungi rumah guruku satu persatu, mengenang masa-masa sekolah dulu. Sayang jarak ribuan kilometer memisahkan kita. Sudah tiga setengah tahun kulewati hidup di negeri Sakura, negeri impian kebanyakan anak Indonesia. Mungkin memang doktrin film Doraemon setiap hari minggu pagi yang membawa anak-anak bangsa ke sini, tapi nilai lautan kehidupan masyarakat Jepang yang bisa diambil luas sekali. Tak henti-hentinya hati ini mengucap syukur, masih banyak kesempatan belajar didapat walau sudah lulus sekolah. Berkat Bapak dan Ibu guru semua yang mengajariku dengan kerendahan hati, menginspirasi dengan keteladan diri, dan menasehati dengan keluhuran ilmu.

Bapak dan Ibu guruku, tahun ini adalah tahun perubahan, bukan hanya Indonesia yang akan berubah dengan dipilihnya presiden baru, melainkan juga diri ini. Saat ini hatiku sedang gundah gulana memilih persimpangan jalan yang akan mengubah hidup, ingin rasanya mendengar nasihat juga bimbingan Bapak dan Ibu guru seperti dulu.

Persimpangan pertama, tiga setengah tahun bekerja di Jepang bagiku merupakan waktu yang cukup lama, tapi juga tak terasa. Entah karena kesibukan super masyarakat Jepang yang pekerja keras, atau memang perubahan dunia yang membuat waktu begitu cepat berlari. Sudah puluhan nikahan teman sebaya yang kulewati, juga waktu bercengkrama dengan keluarga dan teman yang sulit sekali. Apa harus kulanjut perjuangan hidup bekerja di Jepang yang penuh tekanan dan tuntutan ini? Ada juga ketakutan lain dengan semakin lama tinggal di sini, semakin pudar pula idealismeku untuk kembali ke tanah air, membangun tanah nusantara. Kehidupan Jepang yang begitu erat dengan nilai-nilai Islami, semua serba teratur, semua serba santun, membuat siapa saja jatuh cinta dengan kehidupan di negeri matahari terbit ini. Ditambah lagi petinggi-petinggi di Jepang yang masih sangat mengharapkan kehadiranku, membangun perusahaan dan membantu mereka menguasai dunia. Haruskah kulanjutkan kehidupan seperti ini 10 tahun lagi atau kusudahi saja?

Persimpangan kedua, melanjutkan studi di negeri yang sempat membesarkanku sewaktu kecil dulu: Amerika. Berkat doa Ayah dan Ibu ditambah sedikit keajaiban, tiga universitas besar di Amerika menerimaku, termasuk Cornell University, salah satu universitas terbaik dunia yang tergabung dalam Ivy League, sebuah liga football antar universitas yang entah kenapa jadi acuan universitas elit di wilayah East Coast, termasuk Harvard University di dalamnya. Haruskah kulupakan Jepang dan mengambil kesempatan yang mungkin tak akan datang lagi ini? Semua akan kembali dari nol, aku tak punya siapa-siapa di Amerika. Rasa ketakutan itu masih ada, takut tenggelam di tengah hiruk pikuk kehidupan Amerika yang terlalu banyak bicara omong kosong, 180 derajat berbeda dengan kondisi Jepang yang sedikit bicara dan banyak bekerja.

Persimpangan ketiga, menjemput momentum visi Bandung Technopolis yang sedang digarap Kang Emil. Anak-anak muda Indonesia sekarang sedang berlomba-lomba merintis perusahaan teknologi IT dan kreatif, kesempatan sedang terbuka selebar-lebarnya. Sesuatu yang tak bisa ditemui dulu di generasi Ayah, Ibu, dan Kakek kita. Pengusaha-pengusaha muda baru akan lahir, harapannya bisa membuka ribuan lapangan kerja baru di Indonesia. Tapi nasib tidak melahirkanku di keluarga pengusaha, mindset seperti ini sama sekali tak ada. Arus internal keluarga yang melawan mimpiku ini cukup deras, mimpi membuat perusahaan teknologi hebat karya anak bangsa yang mendunia, impian sejak kuliah dulu. Yang namanya perusahaan teknologi kecil, masa depan sangat tak pasti, membayar gaji pegawai pun belum tentu, namun bisa menjadi jalan mengubah dunia dan menuju negeri impian lainnya: Silicon Valley. Haruskah kupilih tantangan ini dan menutup telinga terhadap suara-suara sumbang yang melawan mimpi? Aku sangat takut kehilangan momentum ini. Kalau tak sekarang, kesempatan akan semakin sulit. Semakin berumur, semakin sulit untuk bergerak.

Bapak dan Ibu guruku, apa yang harus kulakukan? Apapun pilihan yang kuambil, aku berjanji tak akan mengecewakan dan menyianyiakan pengorbanan Bapak dan Ibu guru. Aku hanya ingin selalu didoakan yang terbaik oleh Bapak dan Ibu guru, dan semoga apapun pilihan yang kuambil tetap bisa membuat ibu pertiwi tersenyum.

Terimakasih Bapak dan Ibu guruku. Salam dari negeri sakura.

10 thoughts on “Teruntuk Bapak dan Ibu Guruku

  1. Blogwalking ke sini, nemu foto kelas SD dipajang lah..haha.

    Saran ane Gir, bikin perusahaan IT dulu, karena sekolah (formal) bisa kapan aja selama ada niat dan kemauan..hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s