Akhir dari Resolusi 2014: Tahun Penuh Tantangan

fireworks-japan

“Gantungkan cita-cita setinggi langit, karena jikalau engkau jatuh, engkau akan jatuh pada bintang-bintang”, sebuah quote dari Bung Karno yang selalu saya pegang erat saat kemanapun akan melangkah. Saya tidak pernah kecewa dengan perkataan ini, karena sudah saya buktikan sendiri. Sudah ribuan cita-cita gagal saya capai, tapi biasanya yang tercapai tak akan jauh dari yang diinginkan, atau paling tidak banyak pelajaran berharga yang bisa didapat. Tahun 2014 ini bagi saya, walaupun banyak gagalnya, bukanlah tahun kegagalan, tapi lebih bisa disebut tahun yang penuh tantangan. Tantangan hidup. Tantangan pekerjaan. Tantangan mimpi. Tantangan cita-cita. Ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Begitulah yang namanya roda kehidupan, terkadang di atas, terkadang di bawah, terus berputar sampai roda itu berhenti entah di umur ke berapa.

Saat saya menulis artikel ini, saya sedang berada di atas gunung tinggi daerah pegunungan puncak yang cukup sejuk. Suasana kabut tebal menyambut pagi terakhir di tahun 2014, seolah Ibu pertiwi sedang berbisik, mengucapkan selamat tinggal untuk saya. Tiga hari lagi saya akan menjalani hidup di negeri yang berbeda lagi, negeri barat yang sangat jauh dari nusantara. Tahun 2014 adalah tahun transisi hidup yang awalnya takut untuk saya jalani, tapi toh akhirnya terlewati juga. Inilah akhir dari sembilan resolusi saya di tahun 2014.

1. Pindah negara, pilihannya: India, USA, Eropa, atau Singapura.

Hampir 4 tahun negeri sakura menjadi tempat singgah titik kehidupan saya. Pada akhirnya, saya putuskan untuk kembali ke tanah air pada 1 Juni 2014. Salah satu keputusan tersulit yang pernah saya buat dalam hidup. Saya mengokret rencana-rencana ini sampai berlembar-lembar di buku kehidupan. Meninggalkan negeri yang diimpikan sejak masa kecil memang begitu berat. Kurang lebih satu bulan saya memohon untuk bisa mundur dari Jepang, setelah 6 kali berdiskusi dengan atasan, akhirnya beliau menyerah juga. Mungkin memang begini budayanya, sangat sulit untuk keluar dari perusahaan Jepang di negerinya sendiri.

Lalu, begitu banyak kesempatan yang menghampiri India, tapi saya jauhi untuk menjemput mimpi: membangun sebuah startup di negeri sendiri. Sebuah tantangan yang sama sekali tak mudah, saya jalani full-time selama 6 bulan terakhir bersama tiga kawan lainnya. Awal yang penuh semangat,  bekerja dari pagi hingga larut malam. Budaya kerja Jepang yang terbawa sampai ke Bandung. Saya dan teman-teman tim terbiasa pulang kerja di atas jam 10 atau 11 malam, bahkan satu kawan saya biasa tidak tidur. Namun, seiring berjalannya waktu, terkumpul jutaan hal yang membuat tim kecewa, telah berhasil mengikis semangat tim sampai ke titik terendah. Walaupun permasalahan yang ada pasti berbeda-beda untuk setiap startup, dan biasanya menjadi kisah tersendiri saat sudah sukses, permasalahan yang ada di internal tim selalu mengganggu sejak 4 bulan menjalani. Motivasi negatif mewarnai keseharian tim kami. Seolah dinaungi awan hujan yang mendung terus menerus, tak sepancaran sinar mataharipun yang menghangatkan rumah kami. Sampai-sampai kami biasa tak berbicara di tim, saking depresinya, tak saling memberi semangat satu sama lain. Suasana kerja seperti ini membuat saya tak bisa bekerja. Kejadian ini semua menyadarkan saya kalau uang bisa membutakan siapapun, menyemangati siapapun, dan menghancurkan siapapun. Saya sampai-sampai sempat membenci bisnis, karena dia lah sebab permusuhan teman, sahabat, bahkan keluarga sendiri.

Akhirnya saya pilih untuk tidak jadi meninggalkan kuliah saya. Saya pilih untuk meninggalkan mimpi startup ini, tidak selamanya tapi akan kembali untuk menjemputnya. Entah dengan tim yang berbeda, entah dengan pengalaman yang berbeda, entah dengan formasi yang berbeda. Barangkali meniru jalan Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Ken Dean Lawadinata sangatlah sulit. Saya tak sepintar, seberani, dan sejenius mereka. Barangkali jalan rasional seperti T.P. Rachmat yang lebih cocok saya ambil, Benny Subianto, Subakat Hadi, dan tokoh pengusaha sukses lainnya yang meniti karier tertinggi lebih dulu. Untuk sekarang, saya akan menjemput mimpi yang lain: kuliah di Amerika Serikat, tanah masa kecil saya.

2. Dapat sekolah master dan beasiswa

Saya sudah mempersiapkan perkuliahan sejak tahun 2013. Begitu banyak berkas yang harus disiapkan, tes yang dijalani, essay yang dibuat, karena saya mendaftar pada 9 universitas: Tokyo University, EMDC Erasmus Mundus, European Institute of Innovation and Technology (KTH, Twente, Eindhoven, Aalto, etc.), Stanford University, Carnegie Mellon University, UC Berkeley, Cornell University, New York University dan University of Southern California. Ditambah waktu keseharian saya yang sangat sempit karena jam kerja di Jepang yang biasanya baru berakhir di atas jam 11 malam, saya harus pintar-pintar curi dan cari waktu. Singkat cerita saya berhasil mendapat Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP dan memilih Cornell University, karena kampusnya yang begitu indah seperti di negeri dongeng. Alhamdulillah, perjuangan panjang yang berakhir manis.

Saya tak henti-hentinya bersyukur terpilih sebagai penerima beasiswa LPDP, walaupun dulu asal saja mengikutinya, datang interview pun saya terlambat hampir 2 jam, nama saya sudah keburu dicoret oleh penguji. Sewaktu itu saya masih sangat gundah memilih persimpangan hidup, sehingga saya berpikir kalau tidak diterima sebagai penerima beasiswa, tentu akan memudahkan saya dalam memilih jalan. Tapi ternyata Sang Penunjuk-Jalan mempunyai rencana lain untuk saya membangun negeri ini.

Saya diberi kesempatan lolos proses seleksi dan dipertemukan dengan kawan-kawan hebat dari Sabang sampai Merauke di Program Kepemimpinan PK-21. Konon katanya salah satu PK terbaik selama 2 tahun program beasiswa LPDP ini berjalan. Satu angkatan ada 125 orang, yang 70%-nya berasal dari daerah tertinggal. Mereka semua kawan yang cerdas dan menginspirasi. Satu kawan yang paling menyentuh perasaan saya adalah kegigihan satu kawan saya yang mengabdi sebagai guru di pedalaman Bima. Ia harus melewat perang suku terlebih dahulu untuk bisa ke kota mengakses internet. Dan masih banyak sekali kawan saya yang hidupnya sulit di daerah asalnya, tetapi berapi-api melanjutkan kuliah ke kota-kota besar dunia untuk nanti kembali membangun daerahnya. Alangkah sombongnya saya bila waktu itu jadi mengundurkan diri dari beasiswa ini. Saya berharap keluarga LPDP ini tidak berhenti disini, bisa terus berkolaborasi, demi tercapainya Indonesia Emas 2045 nanti.

3. Menulis buku dan menerbitkannya

Buku tentang Islam di Jepang yang tadinya akan ditulis bersama Ega, seorang kawan, gagal karena kurangnya konsistensi. Tapi ada satu buku yang berhasil ditulis keroyokan bersama kawan-kawan pekerja profesional di Jepang. Naskah sudah terkumpul, tinggal menentukan judul, menunggu editor dan penerbit Pena Nusantara di awal tahun depan. Mohon doanya.

4. Jelajahi 5 tempat berbeda di dunia

Tujuh tempat baru yang sempat saya kunjungi di tahun ini:
– Hiroshima, Jepang
– Kobe, Jepang
– Padang dan Bukittinggi, Indonesia
– Goa Pindul, Yogyakarta, Indonesia
– Jambi, Indonesia
– Puncak Pass, Indonesia
– Situ Patenggang, Pangalengan, Indonesia

5. Tamat baca 30 buku baru, tahun lalu hanya 19 buku

Tahun ini tamat 33 buku! Judul-judul yang tamat di tahun ini:
– 33 Pesan Nabi
– Orang Sibuk pun Bisa Hapal Quran
– Islam Hari Ini
– Islam Sehari-hari
– Ken dan Kaskus
– Beasiswa di Telapak Kaki Ibu
– Pungutlah Hikmah Walaupun dari Mulut Paman Sam
– The Lean Startup
– Chairul Tanjung si Anak Singkong
– $100 Startup
– Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah
– It’s My Startup
– Bringing Out the Entrepreneur in You
– Bill Gates: Programmer yang Jadi Orang Terkaya
– Pembelajaran T.P. Rachmat
– The Ultimate Guide to Bootstrap Hardware Startup
– Mimpi Sejuta Dolar: Merry Riana
– 101 Young CEO
– Indonesia Dalam Infographic
– Your Job is Not Your Career
– 8 to be Great
– Career Snippet
– Sandiaga Uno: From Zero to Hero
– Istri yang Melengkapi Kekurangan Suami
– Jodoh Dunia Akhirat
– Hadji Agus Salim
– Ali Moertopo
– Garudapreneur
– Bulan Terbelah di Amerika
– Melunasi Janji Kemerdekaan: Biografi Anies Baswedan
– Ir. Soekarno: Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
– William Soeryadjaya Way
– The Jack Welch’s Way

6. Menulis blog 2 minggu sekali, tahun lalu hanya sebulan sekali

Tahun ini hanya menulis 9 artikel, mundur jauh sekali dari tahun lalu. Tahun depan harus lebih baik.

7. Hapal Surat Al Baqarah

Konsisten itu memang hal yang sulit. Hanya berhasil menghapal setengah juz surat Al Baqarah, karena tidak menghapal sama sekali di 3 bulan terakhir. Tapi, tahun ini berhasil menggenapkan hapalan Juz 29 dan selingan Ar Rahman. Alhamdulillah. Tahun depan harus hapal Al Baqarah, karena surat ini akan membela kita di hari kiamat.

Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:
Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surat Al-Baqarah dan Surat Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya. (HR. Muslim 804)

Dari shahabat An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata : saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Akan didatangkan Al-Qur`an pada Hari Kiamat kelak dan orang yang rajin membacanya dan senantiasa rajin beramal dengannya, yang paling depan adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran, keduanya akan membela orang-orang yang rajin membacanya.”
(HR. Muslim 805)

8. Sedekah sejuta rupiah setiap bulan

Alhamdulillah jalan, tapi tidak konsisten di beberapa bulan terakhir.

9. Punya sidejob yang menghasilkan

Ada yang jalan, ada yang tidak. Bisnis Internet Marketing menghasilkan revenue di atas $1,300, kontrakan property masih berjalan sampai April 2015, tapi di bisnis lain saya kehilangan investasi 80 juta rupiah. Sebuah pelajaran berharga untuk bisa lebih hati-hati lain kali.

Semoga bisa lebih baik lagi di 2015.
Puncak, 31 Desember 2014.
Giri Kuncoro.

5 thoughts on “Akhir dari Resolusi 2014: Tahun Penuh Tantangan

  1. asallammualaikum…jujur sedikit membuat malu sendiri ketika membaca tulisan anda, kita seumuran tapi mungkin anda telah mencapai tingkat pencapaian diatas saya dan kota impian saya telah anda kunjungi, terima kasih soob…secara gak langsung udah bikin aku lebih semangat….semoga dalam lindungan allah swt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s